Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Dugderan >> Potensi Wisata Jawa Tengah

Semarang, Wartakotalive.com
Tradisi tahunan Kota Semarang "Dugderan" yang digelar untuk menyambut bulan Puasa tahun ini akan menampilkan beragam potensi wisata dari seluruh kecamatan yang ada di Kota Lumpia ini.
"Dugderan kali ini dari 16 kecamatan akan memunculkan potensi seni dan budaya lokal serta destinasi wisata, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kegiatan akan dilaksanakan Kamis (19/7/2012)," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Nurjanah di Semarang, Rabu (11/7/2012).
Ada tiga nilai spesifikasi yang akan dimunculkan dalam "Dugderan" tahun ini, yakni nilai keagamaan, nilai Jawa, serta egaliter yang terangkum dalam eksplorasi kearifan lokal.
Selain itu, perbedaan mencolok juga akan terlihat pada penggunaan bahasa Jawa lengkap selama prosesi Kirab Budaya Dugderan 2012.
"Selama prosesi Dugderan, seluruh pihak yang terlibat dalam prosesi mulai dari protokol, komandan hingga Plt. Wali Kota Semarang akan menggunakan bahasa Jawa," katanya.
Nurjanah mengatakan bahwa karnaval kirab budaya "Dugderan" akan dimeriahkan dengan kereta kencana, bendi hias, mobil hias bernuansa warak, dan destinasi wisata, pasukan dari masing-masing kecamatan, organisasi kepemudaan, organisasi keagamaan, serta organisasi kemasyarakatan di Kota Semarang.
Rombongan karnaval akan melalui rute Jalan Pemuda-Jln. Gajahmada-Jln. A.Yani, sedangkan rombongan kirab Dugderan yang terdiri dari bendi hias akan menuju Masjid Kauman dan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).
Kirab akan dimulai pukul 12.15 WIB dari halaman Balai Kota Semarang menuju Masjid Kauman. Selanjutnya, di Masjid Kauman, akan dilaksanakan prosesi pembacaan shukuf halaqah, pemukulan beduk, dan bom udara, serta pembagian makanan khas Semarang Ganjel Rel dan air khataman Quran.
"Usai prosesi di Masjid Kauman, rombongan akan melanjutkan perjalanan menuju MAJT. Pemukulan beduk dan meriam juga akan dilakukan di MAJT," katanya.
Nurjanah mengatakan, masih dalam rangkaian Kirab Budaya Dugderan 2012, pada Kamis (19/7) pagi, di Lapangan Simpang Lima juga akan diselenggarakan karnaval dan atraksi budaya pelajar tingkat TK, SD/MI, dan SMP/MTs.
Peserta kirab budaya akan melalui rute Lapangan Simpang Lima-Jln. Pahlawan kemudian belok di bundaran Jln. Pahlawan, dan berakhir di depan SMAN 1 Semarang.
"Untuk kelancaran dan keamanan prosesi, akan dikerahkan 177 personel kepolisian, 23 personel kodim, 100 personel satpol PP, 30 personel Kesbangpolinmas, dan 35 personel Dishubkominfo," katanya.
Nurjanah juga mengimbau sejumlah instansi dan perkantoran yang terletak di sepanjang jalan rute Kirab Budaya Dugderan 2012 untuk tidak memarkirkan kendaraan di badan jalan.
Selama prosesi, kata dia, akan dilakukan penutupan jalan yang dilalui peserta karnaval dan kirab Dugderan 2012, yakni pada Kamis(19/7) pagi mulai pukul 05.30--10.00 WIB kawasan Simpang Lima, Jln. Pahlawan akan ditutup untuk kelancaran peserta karnaval.
Penutupan jalan juga dilakukan pada pukul 11.00--16.00 WIB di Jln. Pemuda-Jln. Gajahmada, dan Jln. A. Yani.

Kudus Kenal Situs Patiayam Lewat Tarian


Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus mengenalkan situs purba Patiayam melalui tarian kontemporer dengan menggandeng Sanggar Greget Semarang sebagai pengolah koreografinya.
"Tarian ini kami namakan Tari Patiayam Purba," kata Kepala Disbudpar Kudus Hadi Sucipto melalui Kepala Seksi Pemasaran Wisata Mutrikah, di sela pergelaran Parade Seni dan Budaya Jawa Tengah 2012, di Semarang, Sabtu 915/7/2012) malam.
Situs Patiayam terletak di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus yang menyimpan fosil purba dengan usia antara 700 ribu-1,5 juta tahun lalu. Sampai saat ini, setidaknya sudah 1.100 fosil berhasil ditemukan.
Menurut Mutrikah, penciptaan tarian yang berlatar belakang situs Patiayam itu dimaksudkan untuk mengenalkan kepada seluruh kalangan masyarakat secara tidak langsung tentang situs purba yang terdapat di Kudus.
"Masyarakat perlu tahu dan paham apa Situs Patiayam, apa yang ada di sana, dan sebagainya. Gerak-gerak tarian Patiayam Purba ini menggambarkan aspek-aspek kehidupan di Patiayam pada zaman purba," katanya.
Untuk koreografi, kata dia, tim kreatif Disbudpar Kudus menggandeng Sanggar Greget Semarang untuk menciptakan gerak tari yang disesuaikan dengan kehidupan masyarakat di kawasan Patiayam pada zaman purba.
Meski konsep tarian itu baru rampung sekitar 50 persen, Mutrikah mengaku berani menampilkannya pada Parade Seni dan Budaya Jateng yang menjadi ajang perdana untuk menunjukkan kesungguhan perhatian atas Situs Patiayam.
Sementara itu, koreografer Sanggar Greget Semarang Yashinta Novia Maharani mengatakan gerak-gerak tari yang diciptakan memang disesuaikan dengan latar belakang Situs Patiayam dan cenderung lebih dekat ke alam.
Ia mencontohkan senjata kapak batu dan tombak batu zaman purba yang menjadi aksesoris penari sekaligus pelengkap gerak tarian, sebab senjata-senjata semacam itu kerap digunakan oleh manusia purba di Patiayam.
Selain kehidupan Patiayam, kata dia, konsep gerak tarian itu juga diserasikan dengan potensi lokal yang dimiliki Kudus yang terkenal dengan jenang dan rokok, yakni gerakan meremas jenang dan melinting rokok.
"Persiapan untuk tampil di ajang ini dilakukan sekitar tiga bulan. Jumlah penari yang tampil sebanyak 60 orang dan 15 pengiring gamelan. Tarian ini memang baru sehingga perlu kami kenalkan pada masyarakat," kata Yashinta.
Tarian Patiayam diawali dengan gerakan mengangkat tangan ke atas dengan teriakan puluhan penari yang mengenakan kostum etnik rimba berwarna oranye dan merah, dipadu rok bermotif loreng dan topi dari bulu.
Tidak ketinggalan, ornamen-ornamen khas zaman purba pun turut dibawa, seperti replika fosil kepala gajah purba, banteng purba, serta tanduk gajah. Sementara senjata zaman purba hanya dibawa oleh penari laki-laki.

Candi Borobudor Resmi Masuk Guinness World Records



Jakarta, Wartakotalive.com
Guinness World Records di London, Inggris, mencatat secara resmi Candi Borobudur sebagai situs arkeologis Candi Budha terbesar di dunia.
"Borobudur diakui secara resmi dengan nomor 'claims' 396-198 di Guinness World Records di London, UK sebagai situs arkeologis candi Budha terbesar di dunia," kata Direktur Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur Prambanan Ratu Boko (Persero), Purnomo Siswoprasetjo, di Jakarta, Rabu (4/7/2012).
Pencatatan itu dilakukan pada 27 Juni 2012 dan telah berhasil mendapatkan nomor klaim yang menyatakan candi Borobudur yang menjadi UNESCO world heritage list nomor 592 (1991) sebagai situs arkeologis candi Budha terbesar di dunia.
Purnomo mengatakan, sertifikat resmi dari Guinnes World Recors saat ini sudah dikirimkan dari markas besar di London ke kantor pusat PT TWC Borobudur Prambanan Ratu Boko (Persero) di Yogyakarta.
"Mulai sekarang candi Borobudur sudah menjadi official Guinness World Records title holders," katanya.
Pihaknya berharap dengan masuknya Candi Borobudur dalam list Guinness candi yang dibangun antara 750-842 SM itu akan semakin dikenal di dunia.
"Kami berharap ini akan mendapat berbagai macam dukungan dan manfaat khususnya yang menyangkut pemasaran dan promosi internasional, karena Guinness sendiri juga memiliki berbagai kegiatan dan event yang mendunia," katanya.
Purnomo mengatakan, proses pendaftaran ke lembaga tersebut memakan waktu sekitar 3 bulan termasuk verifikasi oleh Guinness.
Saat ini tingkat kunjungan wisatawan ke Candi Borobudur terus meningkat. Sepanjang 2011, jumlah wisatawan ke candi berukuran luas 60.000 m3 itu mencapai 250.000 orang atau meningkat 15 persen dibandingkan 2010.
"Sampai kuartal pertama tahun ini ada peningkatan sekitar 16 persen," katanya.
Pihaknya juga sedang menanti proses verifikasi Guinness untuk pengakuan terhadap Candi Prambanan.
Selain dua candi itu, pihaknya juga akan mendaftarkan Sendratari Ramayana yang secara rutin digelar di Candi Borobudur.

Sejarah Kuda Lumping Belum Tercatat



Mataram, Wartakotalive.com
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengakui, sejarah atau asal usul tarian Kuda Lumping yang juga disebut jaran kepang atau jathilan, belum tercatat secara baik sehingga falsafahnya beragam.
"Kita semua tahu kalau tarian Kuda Lumping biasa diperagakan pada berbagai pertunjukan, tetapi betapa naifnya karena kita belum tahu tahun berapa Kuda Lumping itu mulai diperagakan," kata Nuh pada pembukaan Pekan Seni Mahasiswa Indonesia Nasional (Peksiminas) XI yang dipusatkan di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (2/7/2012).
Perhelatan dua tahunan mahasiswa nasional yang digelar di Arena Budaya Universitas Mataram (Unram) itu, akan berlangsung hingga 6 Juli mendatang.
Peksiminas XI itu merupakan puncak kegiatan kemahasiswaan di bidang pengembangan bakat dan minat mahasiswa dalam bidang seni itu, dihadiri perwakilan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Pada perhelatan Peksiminas 2012 itu dilombakan 15 tangkai seni yaitu seni tari, vokal grup, lagu pop, keroncong, seriosa, dangdut, baca puisi, monolog, seni lukis, desain poster, fotografi, penulisan cerpen, penulisan lakon, penulisan puisi, dan komik strip.
Nuh mengungkapkan sejarah tarian Kuda Lumping yang belum tercatat secara detail itu, ketika menyontohkan pentingnya pelestarian budaya dan peradaban bangsa Indonesia, yang harus dilakukan semua pihak, termasuk kalangan mahasiswa, saat berpidato di hadapan ratusan mahasiswa peserta Peksiminas 2012.
Menurut dia, hingga kini belum diketahui siapa pencetus tarian Kuda Lumping itu, apa makna falsafah yang terkandung di dalamnya, dan bagaimana cara mempertahankan dan mempromosikan tarian tersebut.
"Kalau itu semua bisa kita catat, kita register, lalu kembangkan dan promosikan, maka hal itu akan sangat baik," ujarnya.
Versi yang diketahui sebagian masyarakat Indonesia, Kuda Lumping merupakan tarian tradisional Jawa yang menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda.
Tarian tersebut menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna.
Tarian Kuda Lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut.
Versi lainnya, tari kuda lumping merupakan bentuk apresiasi dan dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda.
Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda.
Versi lain menyebutkan bahwa tarian itu mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda.
Kendati demikian, hingga kini tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, sehingga hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (ant)

Kampung Arab di Pekojan



Jakarta, Wartakotalive.com
Selain orang China, orang Arab merupakan golongan minoritas terpenting kedua di Batavia. Sayang, kajian historis atas orang Arab masih sedikit. Mungkin karena jumlah mereka dibandingkan orang China dianggap kecil.
Di Batavia, kampung Arab ada di Pekojan. Orang sering juga menyebutnya "Kawasan Moor", terletak antara Ammanusgracht (Jalan Bandengan Selatan) dan Bacherachtsgracht (Jalan Pekojan). Permukiman ini mulai muncul pada abad ke-17.
Namanya berasal dari Koja, sebutan bagi para pendatang dari Gujarat. Selanjutnya, istilah itu digunakan juga oleh orang-orang yang berasal dari pesisir Coromandel dan Malabar. Gujarat, Coromandel, dan Malabar terletak di India. Beberapa masjid tua masih terdapat di Pekojan, berasal dari masa 1648 hingga 1750, tapi beberapa rumah Moor telah hancur.
Dulu memang pemerintah kolonial mengeluarkan aturan bahwa etnis-etnis tertentu dikelompokkan pada wilayah-wilayah tertentu. Meskipun begitu, banyak orang Arab kelas bawah keturunan campuran berhasil menetap —tentu saja secara ilegal— di luar Pekojan.
Pada akhir abad ke-19 beberapa orang Arab berhasil tinggal di tengah-tengah orang Eropa dan Indo di pinggiran Krukut dan Tanahabang. Rumah mereka besar dan bagus seperti milik orang-orang Eropa. Sisanya bertebaran di kampung-kampung pribumi.
Setelah penghapusan sistem permukiman pada 1919, sebagian besar orang Arab dari kawasan Pekojan yang terlalu padat, pindah ke Krukut, Petamburan, dan Tanahabang. Dari sana, populasi Arab juga menyebar ke daerah-daerah lain, seperti Sawahbesar, Jatinegara, dan Tanahtinggi (Jakarta Batavia: Esai Sosio-Kultural, 2007).
Pada awal abad ke-19 tercatat sekitar 400 orang Arab dan Moor tinggal di Batavia. Jumlah orang Arab secara eksplisit baru disebutkan pada 1859, yakni 312 orang. Pada 1870 jumlah mereka berlipat tiga kali lebih. Pada 1885 Batavia menampung 1.448 penduduk Arab, 972 di antaranya lahir di Hindia Belanda. Antara 1900-1930 minoritas Arab bertambah dari 2.245 menjadi 5.231.
Menurut sensus 1930, minoritas Arab telah berkembang menjadi sebuah komunitas mapan. Kalau tadinya jumlah komunitas Arab terbesar terdapat di Surabaya, sejak sensus itu komunitas terbesar beralih ke Batavia.
Kedatangan orang Arab dari Hadramaut terjadi sejak pembukaan Terusan Suez pada 1869. Kaum pendatang itu umumnya laki-laki. Mereka kemudian menikah dengan perempuan setempat. Hingga pendudukan Jepang, para pendatang tetap memelihara hubungan rapat dengan kerabat mereka di Hadramaut.

Asy-Suro Garut, Masjid Bergaya Kolonial Belanda



Garut, Wartakotalive.com

Bangunan ini terletak di Kampung Cipari, Desa Sukarasa, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut. Eksteriornya bergaya art deco, layaknya gedung yang dibangun saat pemerintah kolonial Belanda berkuasa di Indonesia.

Jendela-jendela berbentuk persegi berderet rapi di setiap sisi dindingnya. Balok-balok beton melingkari gedungnya, menambah kesimetrisan setiap elemen bangunan. Pada bagian bawah gedung terdapat deretan dinding batu dan tiga tangga yang mengantarkan pada tiga buah pintu.

Dua buah pintu berada di dinding utara dan selatan, saling berhadapan. Satu lagi pintu utama berada di dinding timur, tepat di bawah sebuah menara yang langsung berhadapan dengan ceruk mihrab di sebelah barat. Semuanya letaknya simetris, dilengkapi dekorasi-dekorasi bergaris khas arsitektur art deco.

Bangunan ini beratapkan genting, seperti atap rumah biasa. Sebuah menara yang berdiri di tengah dinding sebelah timur menambah keunikan bangunan. Pada puncak menaranya terdapat kubah bergaya kolonial. Di atas kubah tersebut terdapat paviliun mini dengan kubah kecil di atasnya.

Di dalam, barulah tampak bangunan tersebut adalah sebuah masjid. Deretan karpet sajadah tersusun rapi membentuk saf, mengarah ke sebuah ceruk mihrab. Pada siang hari, interiornya dibanjiri cahaya matahari yang menembus deretan jendela di sekeliling bangunan.

Tokoh masyarakat setempat, Salaf Soleh (76), mengatakan pembangunan masjid ini adalah hasil musyawarah para tokoh Sarekat Islam dan digunakan sebagai tempat musyawarah Sarekat Islam tingkat nasional. Karenanya, bangunan ini dinamai Masjid Asy-Syuro.

"Awalnya bangunan kecil, kemudian dipugar menjadi bangunan seperti sekarang, tahun 1936. Waktu itu diarsiteki keponakan HOS Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam. Pembangunan masjid adalah desakan dari para tokoh Sarekat Islam," ujar sesepuh Pesantren Cipari ini saat ditemui di lingkungan Masjid Asy-Syuro, Selasa (24/7/2012).

Pembangunan masjid dipimpin KH Yusuf Tauziri dan didanai para dermawan, ujar Salaf. Terutama pengusaha asal Bayongbong, Garut, yakni KH Abdul Hamid, KH Ismail, dan KH Sambas.

Setelah pembangunan selesai, kata Salaf, warga awalnya kaget karena bentuk masjid ternyata lebih mirip gereja. Terutama pada menara setinggi 17 meter yang berada di bawah pintu utama.

Namun, warga kemudian tidak mempermasalahkan bentuknya. Intinya, kata Salaf, bangunan tersebut harus bisa menampung ratusan orang untuk salat, mengaji, dan bermusyawarah.

"Dulu sangat indah. Masjid dikelilingi taman-taman bunga. Banyak orang Eropa mengunjungi masjid ini yang katanya memiliki arsitektur kolonial satu-satunya di dunia. Sekarang dikelilingi taman ilmu, yaitu bangunan pesantren," kata Salaf.

Menurut Salaf, ada hikmah di balik bentuk masjid yang unik ini. Masjid Asy-Syuro menjadi benteng pertahanan sekaligus tempat berlindung warga saat terjadi pemberontakan DI/TII dan PKI. Ketika bangunan-bangunan di sekitarnya terbakar, kata Salaf, masjid ini tetap kokoh berdiri dan menjadi tempat warga berlindung.

"Masjid ini menjadi benteng saat melawan penjajah dan pemberontak. Kampung Cipari selalu menjadi tempat paling berbahaya tapi sekaligus menjadi tempat yang dianggap warga sebagai tempat teraman," ujarnya.

Masjid ini sempat direnovasi bagian atapnya tahun 1986. Kini, Masjid Asy-Syuro tetap berdiri kokoh setelah menjadi saksi bisu perjuangan warga Garut untuk mempertahankan kedaulatan NKRI sekaligus menjadi pusat kegiatan keislaman warga.

Masjid Tua Taqwa, Pilarnya dari Batang Cabai



Sidenreng, Wartakotalive.com
Masyarakat Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, sudah tidak meragukan lagi bahwa masjid tua di Dusun Jerrae, Desa Allakuang, Kecamatan Maritanggae, Kabupaten Sidrap, berusia 450 tahun. Bahkan masjid bernama Masjid Tua Taqwa diyakini sebagai masjid tertua di kawasan itu.
Kepercayaan lain yang diyakini warga setempat adalah pilar-pilar Masjid Tua Taqwa ini terbuat dari batang tanaman cabai. Demikian diberitakan Kompas.com.

Ditemui di Masjid Tua Taqwa, sekretaris panitia pembangunan masjid, Paddi, mengatakan bahwa masjid tua ini di bangun sekitar tahun 1607 oleh Syech Bojo, Lapatiroi, dan La Pagala alias Nene Mallomo, dengan menggunakan kayu dari tanaman cabai sebagai pilar utama dari masjid tua ini.
"Konon empat kayu pohon cabai ini diambil dari Gunung Nepo (Kecamatan Panca Lautan), dan diangkat sekaligus oleh salah seorang di antara mereka," kata Paddi, Senin (6/8).
Imam Masjid Tua Taqwa H Bantong (85) mengatakan, dari cerita turun-temurun, pilar utama dari masjid tua ini terbuat dari batang tanaman cabai, dan hingga saat ini masjid andalan Bumi Nene Mallomo ini belum pernah direnovasi, khususnya pada bagian pilar itu.
"Kecuali atapnya. Dulunya atap pada masjid ini terbuat dari ijuk dan sekitar tahun 2000 lalu diganti dengan atap seng," ujar Bantong.
Sedangkan untuk lantai dan dinding masjid ini, kata Bantong, renovasi dimulai sejak tahun 2009,dengan bantuan dana dari Pemerintah Provinsi untuk pemasangan lantai dari keramik, dan sebagian dari kas masjid.
Turun-temurun
Bantong menjelaskan lebih lanjut, saat baru selesai dibangun, yang mengimami masjid ini adalah Syech Bojo sekaligus yang menyebarkan agama Islam di kalangan penduduk saat itu. Setelah Syech Bojo wafat tempat digantikkan oleh Addatuang Panguriseng dan keturunannya hingga sampai saat ini.
"Untuk menjadi imam di masjid tua ini harus turun-temurun," ujar Batong, yang menjadi imam di masjid ini sejak tahun 1960-an.
Menurut Paddi, masjid ini pernah menjadi pusat pendidikan Islam yang menelorkan sejumlah tokoh agama terkemuka, seperti KH Abdu Pabbaja dan KH Yunus Maratang.
Kata Paddi, dulunya masjid ini sempat tidak digunakan sebagai lokasi salat Jumat selama 30 tahun lebih, tanpa ada alasan yang jelas. "Sejak tahun 1979 hingga tahun 2009, masjid ini tidak pernah digunakan jamaah untuk salat Jumat, dan hanya untuk salat fardu saja," kata Paddi.
Namun berkat kegigihan Bahri, salah seorang tokoh masyarakat Jerrae, masjid ini kembali dipakai sebagai tempat salat Jumat, dan dibuka langsung oleh Kepala Kejaksaan dan Bupati Sidrap pada tahun 2009.
"Sekarang sudah ditempati salat Jumat bahkan digunakan saat Lebaran," tuturnya.
Itu pun, kata Paddi, setelah masyarakat membubuhkan tanda tangan di secarik kertas sebagai tanda persetujuan menempati masjid ini untuk salat Jumat.

Alquran Kuno Koleksi Museum Sri Baduga



Bandung, Wartakotalive.com
MUSEUM Sri Baduga, Bandung, kini memiliki koleksi berupa Alquran kuno. Alquran yang memiliki ukuran 40 x 25 cm dengan ketebalan sekitar 7 cm itu diduga ditulis akhir abad ke-19, atau 100 hingga 200 tahun lalu.
Kitab suci umat Islam yang memiliki nilai sejarah itu menjadi koleksi Museum Sri Baduga sejak akhir 2011, dengan nomor inventaris 07.146 dan sejak kemarin mulai dilakukan penelitian.
"Melihat dari hasil penelitian sementara ditemukan adanya tulisan dalam hurup Arab dari penulisnya, yang menunjukkan Alquran itu ditulis sekitar akhir abad ke-19 atau tahun 1890-an," kata Kepala Seksi Perlindungan Museum Sri Baduga, Nita Juanita, seperti dilansir Tribun Jabar, Kamis (2/8).
Kepala Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga Provinsi Jawa Barat, Ani Ismarini, mengatakan Alquran yang ditulis tangan itu diperkirakan berusia 100 sampai 200 tahun. Alquran kuno itu, kata Ani, terbuat dari kertas daluang atau kertas kulit kayu yang ditumbuk halus. Sampul Alquran itu terbuat dari kulit berwarna coklat tua dengan tulisan arab.
"Kami masih terus menelitinya secara bertahap. Kalau dilihat fisiknya, terutama kertas yang digunakan menunjukan koleksi berusia tua," ujar Ani.
Sementara isi dari keseluruhan Alquran kuno yang ditulis tangan tersebut, menurut Ani, hampir sama dengan Alquran yang dicetak mesin. Namun pada Alquran yang ditulis tangan ini terdapat keunikan berupa warna tinta yang digunakan. Penulisnya menggunakan tinta berwarna hitam dan merah. Selain itu tulisannya masih jelas dan bisa dibaca.
"Tapi sayang penulisnya tidak membubuhi hiasan atau musaf di setiap lembar Alquran, sehingga terlihat sangat sederhana," ujarnya.
Sumbangan
Kondisi Alquran kuno tersebut, ujar Ani, 99 persen masih utuh dan bisa dibaca. Hanya terdapat dua lembar surat pendek yang hilang, yakni Surat Al Fatihah dan An Naas. Hilangnya kedua surat itu diketahui sejak Alquran ini mulai dibuka untuk diteliti. Sebelumnya koleksi ini disimpan di penyimpan koleksi sejak pihak museum menerimanya dari penyumpang pada akhir 2011 lalu.
Alquran kuno yang diperkirakan ditulis akhir abad ke-19 ini, kata Ani, merupakan sumbangan keluarga R Warnaen Poeraatmadja. Alquran itu diserahkan oleh perwakilan keluarga Warnaen, Ny Warti Hirman yang tinggal di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada akhir 2011.
Sebelumnya Museum Sri Baduga melakukan digitalisasi terhadap 17 koleksi naskah kunonya. Adapun tujuannya untuk menyelamatkan isi dan bentuk fisik dari naskah tersebut. Serta nantinya bisa diakses masyarakat melalui disk di komputer atau melalui internet. "Kami ingin koleksi museum juga bisa diketahui dan dimanfaatkan oleh masyarakat," ujar Ani. av

Ada Al Quran Kuno di Museum Sri Baduga



Bandung, Wartakotalive.com

Museum Sri Baduga kini memiliki koleksi berupa Al Quran kuno. Al Quran yang memiliki ukuran 40 x 25 cm dengan ketebalan sekitar 7 cm itu diduga ditulis akhir abad ke-19 atau 100 hingga 200 tahun lalu. Kitab suci umat Islam yang memiliki nilai sejarah itu sejak akhir 2011 lalu menjadi koleksi Museum Sri Baduga dengan nomor inventaris 07.146 dan sejak kemarin mulai dilakukan penelitian.

"Melihat dari hasil penelitian sementara ditemukan adanya tulisan dalam hurup Arab dari penulisnya yang menunjukkan Al Quran itu ditulis sekitar akhir abad ke-19 atau tahun 1890-an," kata Kepala Seksi Perlindungan Museum Sri Baduga, Nita Juanita, kepada Tribun, Kamis (2/8/2012).

Kepala Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga Provinsi Jawa Barat, Dra Ani Ismarini mengatakan Al Quran yang ditulis tangan itu diperkirakan berusia 100 sampai 200 tahun yang lalu. Al Quran kuno itu, kata Ani, terbuat dari kertas daluang atau kertas kulit kayu yang ditumbuk halus. Cover Al Quran itu terbuat dari kulit berwarna coklat tua dengan tulisan arab.

"Kami masih terus menelitinya secara bertahap. Kalau dilihat fisiknya, terutama kertas yang digunakan menunjukan koleksi berusia tua," ujar Ani kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis siang kemarin.

Sementara isi dari keseluruhan Al Quran kuno yang ditulis tangan tersebut, menurut Ani, hampir sama dengan Al Quran yang dicetak mesin. Namun pada Al Quran yang ditulis tangan ini terdapat keunikan berupa warna tinta yang digunakan. Penulisnya menggunakan tinta berwarna hitam dan merah. Selain itu tulisannya masih jelas dan bisa dibaca. "Tapi sayang penulisnya tidak membubuhi hiasan atau musaf di setiap lembar Al Quran, sehingga terlihat sangat sederhana," ujarnya.

Kondisi Al Quran kuno tersebut, ujar Ani, 99 persen masih utuh dan bisa dibaca. Hanya terdapat dua lembar surat pendek yang hilang, yakni Surat Al Fatihah dan An Naas. Hilangnya kedua surat itu diketahui sejak Al Quran ini mulai dibuka untuk diteliti, sebelumnya koleksi ini disimpan di penyimpan koleksi sejak menerimanya dari penyumpang pada akhir 2011 lalu.

Al Quran kuno yang diperkirakan ditulis akhir abad ke-19 ini, kata Ani, merupakan sumbangan keluarga R Warnaen Poeraatmadja. Al Quran itu diserahkan oleh perwakilan keluarga Warnaen, Ny Warti Hirman yang tinggal di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan pada akhir 2011 lalu.

Sebelumnya Museum Sri Baduga melakukan digitalisasi terhadap 17 koleksi naskah kunonya. Adapun tujuannya untuk menyelamatkan isi dan bentuk fisik dari naskah tersebut. Serta nantinya bisa diakses masyarakat melalui disk di komputer atau melalui internet. "Kami ingin koleksi museum juga bisa diketahui dan dimanfaatkan oleh masayarakat," ujar Ani.

Jejak Buangan Belanda di Masjid Jami Tambora



BERITAJAKARTA.COM — 26-06-2012 13:54
Menjadi orang buangan sangat identik dengan ketersia-siaan. Namun, tidak bagi KH Moestoyib, Ki Daeng, dan kawan-kawan. Para pejuang yang lama menetap di Sumbawa, tepatnya di kaki gunung Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) itu, memiliki peran besar atas berdirinya Masjid Jami Tambora yang kini masih berdiri kokoh.

Masjid yang berlokasi di Jalan Tambora Masjid (dahulu Jalan Blandongan) RT 03/03, Kelurahan Tambora, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, yang kini telah menjadi benda cagar budaya merupakan peninggalan para pejuang yang sengaja dibuang Belanda di Batavia. Ketua Pengurus Masjid Tambora, Yakub menjelaskan, masjid tersebut dibangun pada tahun 1181 Hijriah atau 1761 Masehi, setelah KH Moestoyib, Ki Daeng dan teman-temannya dibuang ke Batavia oleh kompeni pada tahun 1755 akibat penentangannya dan menjalani hukuman di penjara di Batavia selama lima tahun. Setelah bebas tahun 1761 Masehi, KH Moestoyib, Ki Daeng dan rekan-rekannya yang ingin menetap di Batavia, jelas Yakub kemudian mendirikan masjid tersebut.

“Jadi awal dibangunnya masjid yang akhirnya diberi nama Masjid Jami Tambora merupakan sebagai wujud syukur KH Moestoyib, Ki Daeng dan rekan-rekannya setelah bebas dari penjara dan ingin menetap di Batavia,” ujar Yakub, Selasa (26/6).

Yakub menjelaskan, sejak masjid selesai dibangun peribadatan dipimpin oleh KH Moestoyib sampai wafat. Letaknya yang persis di pinggir anak Sungai Ciliwung membuat masjid tersebut banyak didatangi para pedagang yang ingin shalat. Maklum transportasi air menjadi andalan warga saat itu. Ada kisah lain yang cukup menarik dari masjid tersebut, karena saat zaman peperangan melawan NICA tahun 1945, masjid itu juga digunakan para pejuang Indonesia yang dipimpin Mad Supi sebagai markas perjuangan pemuda Muslim. Namun sayangnya, pada bulan Oktober tahun yang sama masjid diserang NICA, dan Mad Supi serta rekan-rekannya pun ditawan Belanda.

“Jadi dahulu selain sebagai tempat musyawarah para pemuda Muslim untuk melawan NICA, juga sebagai tempat shalat para pedagang yang melintas di anak Sungai Ciliwung,” ujar Yakub.

Saat ini keberadaan masjid tersebut masih berdiri kokoh pada lahan seluas 2.500 meter persegi dengan luas bangunan 1.250 meter persegi. Masjid dengan gaya arsitektur paduan Arab, Belanda, dan Cina itu tampak unik. Perpaduan tiga negara itu bisa dilihat dari tegel tiang penyangga lingkup masjid yang saat ini dicat berwarna merah bertuliskan huruf Arab. Atap masjid yang dibuat tumpang dua berbentuk limasan mengakomodir gaya Cina, serta kayu pada pada pintu yang bergaya Belanda. Sebagai bentuk penghormatan atas jasa KH Moestoyib dan Ki Daeng yang wafat tahun 1836, makam mereka diletakkan di sisi sebelah kiri masjid.

Pulau Panggang, Saksi Kehebatan Pendekar Darah Putih



BERITAJAKARTA.COM — 29-02-2012 10:00
Selain menyimpan keindahan alam yang eksotik dan alami, keberadaan pulau-pulau yang terhampar di perairan teluk Jakarta ternyata memiliki sejarah panjang dengan keunikannya masing-masing. Salah satunya seperti Pulau Panggang. Ya, Pulau Panggang, salah satu pulau di Kecamatan Kepulauan Seribuutara, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu ternyata memiliki sejarah panjang dan heroik. Berbagai versi pun muncul melatarbelakangi asal muasal cerita Pulau Panggang. Sebagian besar masyarakat yang bermukim di pulau ini meyakini adanya cerita seorang ksatria yang lebih dikenal dengan sebutan, Pendekar Darah Putih. Kala itu, sang ksatria sempat terdampar di pulau tersebut yang saat ini bernama Pulau Panggang. 

Masyarakat setempat meyakini terdapat dua versi mengenai Riwayat Pendekar Darah Putih. Cerita pertama, konon pendekar tersebut terdampar di Pulau Paniki yang letaknya tak jauh dari Pulau Panggang. Kala itu, warga setempat yang tengah mencari ikan menemukan sang pendekar tergeletak dengan kondisi tak sadarkan diri di pantai Pulau Paniki.

Sedangkan versi kedua menyebutkan, Pendekar Darah Putih berasal dari daerah Mandar, Sulawesi. Sedangkan kedatangannya di Pulau Panggang kala itu untuk mencari kerabatnya. "Warga sendiri menggambarkan kalau Pendekar Darah Putih adalah sosok lelaki gagah berani yang memiliki ilmu beladiri tinggi. Hal itu diketahui, setelah Pendekar Darah Putih bersama warga berhasil mengusir dan menangkap segerombolan perompak atau bajak laut yang waktu itu akan merampok harta benda warga Pulau Panggang," ujar Hamdi (33), Ketua Sanggar Apung Pulau Panggang, kepada beritajakarta.com, Rabu (29/2).

Sejarah Pendekar Darah Putih, dikatakan Hamdi, dimulai saat sang ksatria tersebut bertarung dengan belasan perompak atau bajak laut. Dalam pertarungan yang tidak berimbang itu, perompak berhasil melukai lengannya. Namun, dari luka tersebut, bukannya darah merah yang keluar, tetapi justru mengeluarkan darah berwarna putih. "Sejak saat itu, warga memberinya gelar Pendekar Darah Putih," kata Hamdi.

Menurut Hamdi, keberadaaan Pendekar Darah Putih ini berkaitan erat dengan nama Pulau Panggang. Dengan aksi heroiknya, Pendekar Darah Putih yang saat itu dibantu warga akhirnya berhasil mengalahkan gerombolan perompak, serta berhasil menawan tiga dari belasan perompak yang menyerangnya. "Pendekar ini mencari siasat dengan menyuruh warga membuat perapian (Pemanggangan), agar para perompak tersebut merasa kapok dan tidak kembali lagi," ucapnya.

Setelah membuat pemanggangan tersebut, api yang berkobar besar dari pemanggangan itu membuat nyali perompak menjadi ciut. Warga pun sempat berteriak agar para perompak itu dipanggang hidup-hidup. Kemudian salah seorang warga bersandiwara untuk berteriak kepanasan, seperti terbakar hingga teriakan terhenti seakan sudah meregang nyawa.

Mendengar teriakan itu, tawanan yang ditutupi matanya dengan sehelai kain pun merasa takut. Tawanan itu menganggap, salah satu rekannya telah tewas di atas pemanggangan terpanggang api. Sebab, tercium bau daging terbakar oleh para tawanan ini. Padahal bau itu berasal dari seekor kambing yang sengaja dibakar oleh Pendekar Darah Putih. "Setelah siasat itu selesai, dua perompak kemudian dilepas dan yang lainnya ditawan di suatu tempat yang tidak diketahui," ungkap Hamdi.

Berkat keberanian Pendekar Darah Putih, warga setempat akhirnya menamakan pemukimannya tersebut sebagai Pulau Panggang. Memang tidak ada yang mencatat perjalanan hidup Pendekar Darah Putih penyelamat Pulau Panggang ini. Namun, sebagian besar masyarakat Pulau Panggang secara turun temurun mempercayai riwayat tersebut dengan adanya batu nisan yang terdapat di Pulau Panggang, dan juga menjaga peninggalan makam kuno yang diyakini tempat
bersemayamnya sang pendekar tersebut. "Kami belum mengetahui tahun berapa muncul dan tewasnya Pendekar Darah Putih. Namun, saat itu, riwayatnya kira-kira bersamaan dengan periode zaman si Pitung," ungkapnya.

Hamdi juga mengungkapkan, pada tahun 1761, Pulau Panggang menjadi tempat perlintasan atau tempat persinggahan masyarakat yang akan menuju Pulau Paniki dan Pulau Sabira sebelum tiba di Batavia yang pada waktu itu masih dikuasai VOC. Pada tahun 1824, berdasarkan kartografi, pulau panggang telah berpenghuni. "Dulu pada tahun 1761 Pulau Panggang disebut juga Pulau Pangan, dan di tahun 1906 menjadi Pulau Long atau Pulau Panjang, dan pada tahun 1986 ditetapkan sebagai Kelurahan Pulau Panggang, tetapi meningkatnya status Kepulauan Seribu dari kecamatan menjadi kabupaten administrasi, Kelurahan Pulau Panggang disahkan kembali pada 27 Juli 2000 silam," kata Hamdi.

Peninggalan sejarah yang masih tampak kokoh dan terpelihara adalah gedung bertipe zaman kolonial yang kini dijadikan Kantor Kelurahan Pulau Panggang. Meski sudah mengalami renovasi, keaslian gedung yang diperkirakan dibangun pada tahun 1618 ini tetap dipertahankan hingga kini. "Menempati area seluas 62,10 hektar, Kelurahan Pulau Panggang kini dihuni sekitar 5.443 jiwa yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan," katanya.

Selain itu, terdapat juga makam-makam kuno yang diyakini masyarakat setempat sebagai makam Pendekar Darah Putih, Kapitan Saudin dan Kapitan Abdul Malik yang berasal dari Banten. "Makam-makam kuno itu juga merupakan bagian dari peninggalan sejarah panjang Pulau Panggang," tuturnya.

Bagi para wisatawan, yang ingin berkunjung ke Kelurahan Pulau Panggang tak perlu khawatir akan kesulitan mengunjunginya. Sebab, saat ini, Pemprov DKI Jakarta telah menyediakan alat transportasi yang memudahkan para pengunjung menuju kawasan Kepulauan Seribu termasuk Pulau Panggang. Ya, Pemprov DKI Jakarta telah menyediakan alat transportasi laut dari dermaga Pantai Marina Jaya Ancol dan Pelabuhan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara yang baru diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, Januari lalu.

Di Pantai Marina, disediakan transportasi berupa speedboat, sehingga waktu yang ditempuh akan lebih cepat. Sedangkan, di Pelabuhan Muara Angke terdapat kapal Lumba-Lumba atau Kerapu, dan kapal ojek atau kapal tradisional dengan tarif relatif lebih terjangkau dengan waktu tempuhnya yang lumayan panjang. Sedangkan jarak Pulau Panggang dari daratan Jakarta kurang lebih dapat ditempuh sejauh 74 kilometer.

Jejak Ulama Banten di Barat Jakarta



BERITAJAKARTA.COM — 20-03-2012 10:18
Mungkin kita pernah dengar nama lapangan sepakbola Wijayakusuma atau nama kantor Kelurahan Wijayakusuma, di Kecamatan Grogolpetamburan, Jakarta Barat. Tapi, siapa sangka jika nama itu diambil dari nama seorang ulama besar dari Banten bernama, Pangeran Wijayakusuma.

Ya, nama Pangeran Wijayakusuma memang tidak pernah bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya Jakarta. Tak heran, makamnya pun yang berlokasi di Jalan Pangeran Tubagus Angke, Kampung Gusti, Kelurahan Wijayakusuma, Kecamatan Grogolpetamburan, itu tetap terjaga dan dijadikan benda cagar budaya oleh Pemprov DKI.

Handoyo (60) juru kunci yang merupakan generasi ketiga penjaga makam tersebut, mengatakan Pangeran Wijayakusuma pada masanya dikenal sebagai seorang ulama yang disegani. Ia juga merupakan penasihat dan panglima perang pada masa kejayaan Pangeran Jayakarta, Wijayakrama, sekitar abad ke-17 yang berjuang melawan Belanda (VOC) di Batavia. Menurutnya, nama Wijayakusuma sendiri diambil dari bahasa Jawa, Wijaya berarti kemenangan dan Kusuma artinya kembang. Sehingga jika diartikan Wijayakusuma yaitu sebagai, Kembang Kemenangan.

“Riwayat Pangeran Wijayakusuma sampai saat ini masih samar karena belum ada keterangan yang pasti. Namun yang saya tahu Pangeran Wijayakusuma dulunya merupakan ulama yang sangat disegani, sekaligus penasehat dan panglima perang pada masa kejayaan Pangeran Jayakarta,” ungkap Handoyo, Selasa (20/3).

Sudin Kebudayaan Jakarta Barat, mencatat Pangeran Wijayakusuma adalah pangeran dari Banten yang datang pada saat Jayakarta di bawah kekuasaan, Wijayakrama, atas perintah Sultan Banten, Maulana Yusuf. Penugasan ini terkait isu, Pangeran Jayakarta, Wijayakrama telah bekerja sama dengan Belanda dalam pengelolaan tanah.“Atas perintah Sultan Banten, Maulana Yusuf, Wijayakrama ditarik kembali ke Banten,” tambah Taufik Ahmad, Kasudin Kebudayaan Jakarta Barat.

Selanjutnya, posisi Pangeran Jayakarta, Wijayakrama, digantikan oleh putranya, Pangeran Ahmad Jakerta. Namun karena usianya masih dianggap terlalu muda untuk mengatur roda pemerintahan, ia selalu didampingi Pangeran Wijayakusuma meski saat itu perselisihan antara Belanda dengan pemerintah yang dipimpin oleh Pangeran Ahmad Jakerta terus berlangsung.

Namun, mengingat usia Pangeran Wijayakusuma sudah semakin lanjut, ia tidak dapat lagi mendampingi Pangeran Ahmad Jakerta secara langsung, hingga akhirnya Pangeran Wijayakusuma memisahkan diri dan mundur ke arah barat ke daerah Jelambar hingga wafat dan dimakamkan di daerah yang sekarang dikenal sebagai makam Pangeran Wijayakusuma yang berada di Kampung Gusti, Jelambar, Jakarta Barat.

“Jadi sampai saat ini hanya sebatas data tersebut yang kami miliki. Tapi karena ketokohannya, setiap ulang tahun kota Jakarta, lokasi makam tersebut jadi tempat ziarah jajaran Pemkot Jakarta Barat,” terang Taufik.

Ia menambahkan, makam tersebut oleh Pemprov DKI Jakarta sudah tiga kali dipugar. Pertama Juni 1968, kemudian Juli 1989 dan tahun 2003 oleh mantan Walikota Jakarta Barat, Sarimun Hadisaputra yang kemudian diresmikan tanggal 21 Juni 2004.

Museum Hakka Akan Hadir di TMII



BERITAJAKARTA.COM — 06-08-2012 13:56
Gubernur DKI Jakarta menghadiri peresmian peletakan batu pertama pembangunan Museum Hakka Indonesia dan Pagoda Tujuh Tingkat di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Senin (6/8). Dibangun di atas lahan seluas 5.000 meter persegi, keberadaan museum ini diharapkan dapat melestarikan sejarah etnis Tionghoa di Indonesia.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo mengatakan, peletakan batu pertama ini menjadi momentum untuk meningkatkan suasana kehidupan yang saling menghargai dan saling menghormati. Terlebih, kata Fauzi, sejak dahulu, orang Hakka sebagai salah satu suku di Cina dikenal lebih mementingkan pendidikan ketimbang hanya melakukan bisnis atau berdagang saja.

"Karenanya pembangunan museum ini tepat sebagai sarana pembelajaran atau pendidikan. Saya juga berharap, Perhimpunan Hakka Indonesia Sejahtera dapat terus memberikan kontribusi bagi peningkatan kerukunan umat beragama di Jakarta, dan Indonesia pada umumnya," ujar Fauzi Bowo, Senin (6/8).

Kehadiran Museum Hakka, kata Fauzi, nantinya juga diharapkan dapat menunjukkan semakin kuatnya kebersamaan dan toleransi sosial antar suku dan umat beragama di Indonesia.

Ketua Pembangunan Museum Hakka, Iwan Mahatirta menambahkan, museum ini dibangun di atas lahan seluas 5.000 meter persegi di areal Museum Tionghoa, TMII. Nantinya, kata Iwan, di dalam Museum Hakka akan terdapat banyak hal seperti informasi sejarah suku Hakka, koleksi foto, lukisan, benda-benda antik asal Tionghoa dan lain sebagainya. "Foto-foto maupun benda koleksi museum ini akan menceritakan perjalanan orang-orang Hakka ke bumi Nusantara," katanya.

Ditambahkan Iwan, rencananya, pembangunan museum ini akan rampung dalam satu tahun ke depan dengan menelan biaya sebesar Rp 30 miliar.